Merasa Diusir, Yai Mim Pindah Rumah dan Rencanakan Bangun Pusat Kajian Filsafat Islam di Malang
SURABAYA — Mantan dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Imam Muslimin, atau yang akrab disapa Yai Mim, memutuskan pindah dari kediamannya di Jalan Joyogrand Kavling III Depag Atas, Kota Malang.
Keputusan ini ia ambil setelah muncul penolakan dari sejumlah warga di lingkungan tempat tinggalnya.
Sebanyak 25 warga setempat dikabarkan menyampaikan keberatan terhadap keberadaan Yai Mim dalam sebuah pertemuan tingkat RT. Merasa tidak lagi diterima, Yai Mim mengaku siap mencari tempat tinggal baru.
baca juga : Santri Ponpes Al Khoziny Dimakamkan di Samping Ayahnya
“Saya merasa seperti diusir secara halus. Karena itu, saya berencana pindah dan membangun tempat baru,” ujar Yai Mim kepada wartawan, Selasa (7/10/2025).
Beli Lahan di Sekitar Brojan Kafe
Yai Mim telah menetapkan lokasi baru yang tak jauh dari tempat tinggalnya saat ini, yakni di dekat Brojan Kafe, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. Lahan tersebut saat ini masih digunakan sebagai kafe dan bengkel.
“Saya dan seorang teman sudah menyewa tempat di dekat Brojan Kafe, dan kami berencana membelinya secara penuh,” katanya.
Rencana pembelian lahan itu menjadi langkah awal bagi Yai Mim untuk membangun hunian pribadi sekaligus pusat kajian filsafat Islam dan tasawuf.
Bangun Rumah dan Pusat Studi Tasawuf
Di lahan baru itu, Yai Mim berencana mendirikan rumah sederhana dengan satu kamar untuk dirinya sendiri.
Sementara, sebagian besar lahan akan difungsikan sebagai pusat kajian filsafat Islam dan tasawuf.
“Prioritas saya adalah membangun pusat kajian itu bersama KYM (Kakung Yai Mim) dan KDM (Kang Dedi Mulyadi),” jelasnya.
Yai Mim menegaskan tidak akan menunggu rumah lamanya terjual untuk memulai pembangunan.
baca juga : Polda Jatim Pastikan Penangkan Aktivis Jogja Paul Sesuai Prosedur
“Saya tidak akan menunggu rumah ini laku. Begitu bisa membeli tanah itu, saya langsung bangun rumah kecil dan pindah,” ujarnya.
Kumpulkan Dana Rp 8,5 Miliar
Yai Mim juga menyebut dirinya masih dalam proses mengumpulkan dana untuk membeli lahan yang diperkirakan bernilai Rp 8,5 miliar.
“Saya harus mengumpulkan dana dulu. Saya ini bukan siapa-siapa,” katanya merendah.
Langkah Yai Mim membangun pusat kajian ini disebut sebagai bentuk komitmennya untuk terus mengembangkan pemikiran Islam dan spiritualitas, meski menghadapi penolakan dari sebagian warga.






